-------->>>
sesungguhnya, ,
sikap terhadap kehidupanlah yang membuat kehidupan terasa pahit dan membosankan, ,
sedangkan kehidupan sendiri berjalan dengan ritme alam yang mengaturnya sedemikian rupa. .
sikap ini pula yang membuat setiap individu setengah atau sepenuh hati mengisinya. .
apa yang dipikirkan biasanya akan mempengaruhi bagaimana sikap kita terhadap apa yang kita pikirkan tersebut dan selanjutnya akan mempengaruhi kinerja sendiri. .
sebagai contoh, ,
apa yang telah dipikirkan tukang kayu tadi telah mempengaruhi sikapnya terhadap pekerjaan membangun rumahdan berbuahkan tindakan yang ogah-ogahan. .
acapkali banyak individu sulit mengisi kehidupannya karena terseret-seret oleh masa lalu yang masih menggelayut dalam dirinya. .
padahal, ,
nostalgia masa lau yang demikian indah, ,
jika tidak terkontrol, ,
akan menggiring ke arah ketenangan batin yang berlebihan dan membuat sulit untuk berubah. .
demikian pula dengan trauma masa lalu, ,
ternyata dapat membuat seseorang enggan untuk memulai suatu lembaran baru dalam kehidupannya. .
Jack hayford pernah mengatakan, ,
"masa lalu adalah persoalan yang sudah mati dan kita tidak mungkin meraih momentum untuk menuju hari esok kalau kita menyeret-nyeret masa lalu di belakang kita. ."
sesungguhnya kita tidak tahu apa akibat yang kita lakukan saat ini, ,
kecuali memprediksiknya. .
namun, ,
yang pasti adalah hari ini merupakan bagian waktu yang nyata kita hadapi langkah demi langkah, ,
di situlah harta dan makna kehidupan yang telah kita lakukan. .
lebih jauh, ,
Charles Jones memprediksi bahwa satu-satunya perbedaan antara siapa Anda hari ini dengan siapa Anda lima tahun lagi akan tampak dari buku-buku yang anda baca dan dengan siapa Anda bergaul serta dengan siapa Anda melewatkan waktu itu. .
itulah sebabnya apa pun yang dilakukan saat ini-tugas dan tanggung jawab yang diberikan serta jabatan yang kita sandang saat ini-seharusnya kita laksanakan dengan sebaik-baiknya, ,
karena apa yang kita tabur itu pula yang kita tuai. .
seorang arsitek pernah bertutur bahwa hidup adalah proyek yang kau kerjakan sendiri. .
pada akhir perjalanan kita akan terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri. .
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
16 April 2010
15 April 2010
Rumah Tukang Kayu
Seorang tukang kayu bermaksud pensiun dini dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi perumahan. .
ia menyampaikan keinginan tersebut kepada pemilik perusahaan. .
Tentu saja, ,
karena tidak bekerja ia akan kehilangan penghasilan bulanannya. .
Akan tetapi, ,
keinginan si tukang kayu ini sudah bulat. .
Ia sudah merasa lelah, ,
ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya yang penuh damai dan ketenangan dengan anak juga istrinya. .
Di pihak lain, ,
pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. .
Ia selalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya, ,
sebagai karya terahir yang dipersembahkan bagi perusahaan. .
Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan tersebut. .
Tetapi, ,
sebenarnya hati kecilnya menolak dan merasa terpaksa. .
Pikirnya si pemilik perusahaan tidak mau rugi, ,
bahkan saat-saat terakhir pun ia masih diperkerjakan. .
hatinya tidak sepenuhnya tercurah pada pengerjaan rumah tersebut. .
Dengan bahan sekedarnya dan bekerja ogah-ogahan ia pun mengerjakan proyek itu. .
Alhasil, ,
rumahpun selesai dengan hasil yang memang tidak optimal. .
Ia telah mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak maksimal. .
Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ,
sang tukang kayu lalu menyerahkan kunci rumah yang telah dibuatnya tersebut. .
Sang pemilik rumah mengucapkan terima kasih atas karya terakhirnya itu. .
Seraya menyalami sang tukang kayu, ,
ternyata sang majikan (pemilik rumah) menyerahkan rumah yang telah dibangunoleh tukang kayu tersebut, ,
"Ambillah, pakailah rumah ini untuk hari tuamu dan anggaplah ini sebagai ungkapan terima kasih perusahaan terhadap dedikasi dan loyalitasmu selama ini."
demikian pemilik perusahaan menyampaikan kata-kata perpisahan. .
Betapa terkejutnya sang tukang kayu. .
Malu dan menyesal dirasakannya sewaktu menerima kunci rumah yang telah dibuatnya sendiri. .
Seandainya ia tahu, ,
bahwa rumah itu akan diberikan untuknya, ,
tentu ia akan mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. .
Itulah kehidupan yang penuh dengan misteri. .
Waktu yang merupakan aset terbesar kita terkadang menjadi sia-sia yang diakhiri dengan penyesalan. .
Padahal, ,
dalam hidup ini kita dapat diibaratkan sedang membangun rumah yang akan kita nikmati hasilnya, ,
baik di hari tua maupun sebagai monumen yang dapat dibaca oleh orang lain. .
---------->>>
ia menyampaikan keinginan tersebut kepada pemilik perusahaan. .
Tentu saja, ,
karena tidak bekerja ia akan kehilangan penghasilan bulanannya. .
Akan tetapi, ,
keinginan si tukang kayu ini sudah bulat. .
Ia sudah merasa lelah, ,
ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya yang penuh damai dan ketenangan dengan anak juga istrinya. .
Di pihak lain, ,
pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. .
Ia selalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya, ,
sebagai karya terahir yang dipersembahkan bagi perusahaan. .
Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan tersebut. .
Tetapi, ,
sebenarnya hati kecilnya menolak dan merasa terpaksa. .
Pikirnya si pemilik perusahaan tidak mau rugi, ,
bahkan saat-saat terakhir pun ia masih diperkerjakan. .
hatinya tidak sepenuhnya tercurah pada pengerjaan rumah tersebut. .
Dengan bahan sekedarnya dan bekerja ogah-ogahan ia pun mengerjakan proyek itu. .
Alhasil, ,
rumahpun selesai dengan hasil yang memang tidak optimal. .
Ia telah mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak maksimal. .
Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ,
sang tukang kayu lalu menyerahkan kunci rumah yang telah dibuatnya tersebut. .
Sang pemilik rumah mengucapkan terima kasih atas karya terakhirnya itu. .
Seraya menyalami sang tukang kayu, ,
ternyata sang majikan (pemilik rumah) menyerahkan rumah yang telah dibangunoleh tukang kayu tersebut, ,
"Ambillah, pakailah rumah ini untuk hari tuamu dan anggaplah ini sebagai ungkapan terima kasih perusahaan terhadap dedikasi dan loyalitasmu selama ini."
demikian pemilik perusahaan menyampaikan kata-kata perpisahan. .
Betapa terkejutnya sang tukang kayu. .
Malu dan menyesal dirasakannya sewaktu menerima kunci rumah yang telah dibuatnya sendiri. .
Seandainya ia tahu, ,
bahwa rumah itu akan diberikan untuknya, ,
tentu ia akan mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. .
Itulah kehidupan yang penuh dengan misteri. .
Waktu yang merupakan aset terbesar kita terkadang menjadi sia-sia yang diakhiri dengan penyesalan. .
Padahal, ,
dalam hidup ini kita dapat diibaratkan sedang membangun rumah yang akan kita nikmati hasilnya, ,
baik di hari tua maupun sebagai monumen yang dapat dibaca oleh orang lain. .
bersambung. . .
---------->>>
18 Maret 2010
Segelas Susu
Suatu hari, ,
seorang anak lelaki miskin yang hidup sebagai pedagang asongan dari pintu ke pintu kehabisan uang. .
kondisinya saat itu sangat lapar. .
anak lelaki tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya. .
akan tetapi, ,
dia kehilangan keberanian saat seorang ibu muda -istri pejabat- membuka pintu. .
anak itu tidak jadi meminta makanan, ,
ia hanya berani meminta segelas air. .
ibu muda tersebut melihat dan berpikir bahwa anak lelaki itu pastilah lapar. .
oleh karena itu, ,
ia membawakan segelas besar susu. .
kemudian anak lelaki tersebut meminum dengan "lahap"-nya dan bertanya, ,
"berapa saya harus membayar segelas susu besar ini?"
ibu itu menjawab, ,
"kamu tidak perlu membayar apapun, orang tua kami dulu mengajarkan untuk tidak menerima bayaran jika melakukan suatu kebaikan". .
sambil menghabiskan susunya, ,'
anak lelaki tersebut berkata dalam hatinya:
"dari hatiku yang terdalam, aku sangat simpati pada ibu yang berbaik hati ini, dia tidak sombong sekalipun istri pejabat"
beberapa puluh tahun kemudian, ,
ibu muda dahulu (yang kini sudah agak lanjut usia) mengalami sakit yang sangat kritis. .
balai pengobatan sudah tidak mampu lagi mengobati penyakit komplikasinya, ,
apalagi saat ini ia berstatus janda seorang pensiunan kereta api. .
atas saran keluarganya, ,
si wanita ini dipindahkan ke Rumah Sakit Umum Pemerintah yang ada di kota tersebut untuk di observasi. .
namun, ,
tetap saja tidak bisa diobati. .
akhirnya, ,
dengan menjual barang-barang tersisa dan atas bantuan rekan-rekan sesama janda pensiunan, ,
si wanita muda ini dikirim ke ibukota karena di sana ada dokter yang mampu mengobati penyakit komplikasinya itu. .
Dr. Sobur Nurjaman Ali dipanggil untuk melakukan pemeriksaan. .
pada saat ia mendengar nama kota asal ibu tersebut, ,
terbersit seberkas pancaran aneh pada mata Dr. Sobur. .
segera ia bangkit mengenakan jubah dokternya dan bergegas turun melalui aula rumah sakit menuju kamar si wanita tersebut. .
ia langsung mengenali wanita itu dengan sekali pandang. .
Dr. Sobur kemudian kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan serangkaian medical check up total serta terapi-terapi medis lainnya. .
"pokoknya, ibu tersebut harus sembuh."
demikian obsesinya. .
mulai hari itu, ,
si ibu yang tergolek lemah tersebut menjadi perhatian Dr. Sobur dengan kasih yang tulus. .
memasuki bulan ketiga di rumah sakit tersebut ternyata s ibu benar-benar sembuh. .
lalu, ,
Dr Sobur meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya guna persetujuan. .
Dr. Sobur melihatnya, ,
dan menuliskan sesuatu pada pojok atas lembar tagihan tersebut. .
ia sangat yakin bahwa ibu ini tidak akan mapu membayar tagihan tersebut walaupun harus dicicil seumur hidupnya. .
bisnis yang dirintis bersama sang suami (almarhum) ketika memasuiki pensiun gagal karena ditipu orang, ,
demikian cerita si ibu kepada Dr. Sobur beberapa waktu lalu. .
hal ini pula yang membuat ia jatuh miskin, ,
dengan seorang anak yang saat ini juga pengangguran. .
lembar tagihan akhirnya sampai ke tangan ibu yang malang itu. .
dengan rasa was-was ia memberanikan diri membaca tagihan yang di sodorkan oleh bagian keuangan. .
di sana tertera rincian biaya yang dikeluarkan selama ia menjalani pengobatan. .
akan tetapi, ,
ada sesuatu yang menarik perhatiannya pada pojok atas lembar tagihan tersebut. .
ia membaca tulisan yang berbunyi, ,
"telah dibayar lunas dengan segelas besar susu!"
Tertanda : Dr. sobur Nurjaman Ali
(Marpaung, Parlindungan.2006.Setengah Isi Setengah Kosong.Bandung: MQS Publishing)
seorang anak lelaki miskin yang hidup sebagai pedagang asongan dari pintu ke pintu kehabisan uang. .
kondisinya saat itu sangat lapar. .
anak lelaki tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya. .
akan tetapi, ,
dia kehilangan keberanian saat seorang ibu muda -istri pejabat- membuka pintu. .
anak itu tidak jadi meminta makanan, ,
ia hanya berani meminta segelas air. .
ibu muda tersebut melihat dan berpikir bahwa anak lelaki itu pastilah lapar. .
oleh karena itu, ,
ia membawakan segelas besar susu. .
kemudian anak lelaki tersebut meminum dengan "lahap"-nya dan bertanya, ,
"berapa saya harus membayar segelas susu besar ini?"
ibu itu menjawab, ,
"kamu tidak perlu membayar apapun, orang tua kami dulu mengajarkan untuk tidak menerima bayaran jika melakukan suatu kebaikan". .
sambil menghabiskan susunya, ,'
anak lelaki tersebut berkata dalam hatinya:
"dari hatiku yang terdalam, aku sangat simpati pada ibu yang berbaik hati ini, dia tidak sombong sekalipun istri pejabat"
beberapa puluh tahun kemudian, ,
ibu muda dahulu (yang kini sudah agak lanjut usia) mengalami sakit yang sangat kritis. .
balai pengobatan sudah tidak mampu lagi mengobati penyakit komplikasinya, ,
apalagi saat ini ia berstatus janda seorang pensiunan kereta api. .
atas saran keluarganya, ,
si wanita ini dipindahkan ke Rumah Sakit Umum Pemerintah yang ada di kota tersebut untuk di observasi. .
namun, ,
tetap saja tidak bisa diobati. .
akhirnya, ,
dengan menjual barang-barang tersisa dan atas bantuan rekan-rekan sesama janda pensiunan, ,
si wanita muda ini dikirim ke ibukota karena di sana ada dokter yang mampu mengobati penyakit komplikasinya itu. .
Dr. Sobur Nurjaman Ali dipanggil untuk melakukan pemeriksaan. .
pada saat ia mendengar nama kota asal ibu tersebut, ,
terbersit seberkas pancaran aneh pada mata Dr. Sobur. .
segera ia bangkit mengenakan jubah dokternya dan bergegas turun melalui aula rumah sakit menuju kamar si wanita tersebut. .
ia langsung mengenali wanita itu dengan sekali pandang. .
Dr. Sobur kemudian kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan serangkaian medical check up total serta terapi-terapi medis lainnya. .
"pokoknya, ibu tersebut harus sembuh."
demikian obsesinya. .
mulai hari itu, ,
si ibu yang tergolek lemah tersebut menjadi perhatian Dr. Sobur dengan kasih yang tulus. .
memasuki bulan ketiga di rumah sakit tersebut ternyata s ibu benar-benar sembuh. .
lalu, ,
Dr Sobur meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya guna persetujuan. .
Dr. Sobur melihatnya, ,
dan menuliskan sesuatu pada pojok atas lembar tagihan tersebut. .
ia sangat yakin bahwa ibu ini tidak akan mapu membayar tagihan tersebut walaupun harus dicicil seumur hidupnya. .
bisnis yang dirintis bersama sang suami (almarhum) ketika memasuiki pensiun gagal karena ditipu orang, ,
demikian cerita si ibu kepada Dr. Sobur beberapa waktu lalu. .
hal ini pula yang membuat ia jatuh miskin, ,
dengan seorang anak yang saat ini juga pengangguran. .
lembar tagihan akhirnya sampai ke tangan ibu yang malang itu. .
dengan rasa was-was ia memberanikan diri membaca tagihan yang di sodorkan oleh bagian keuangan. .
di sana tertera rincian biaya yang dikeluarkan selama ia menjalani pengobatan. .
akan tetapi, ,
ada sesuatu yang menarik perhatiannya pada pojok atas lembar tagihan tersebut. .
ia membaca tulisan yang berbunyi, ,
"telah dibayar lunas dengan segelas besar susu!"
Tertanda : Dr. sobur Nurjaman Ali
(Marpaung, Parlindungan.2006.Setengah Isi Setengah Kosong.Bandung: MQS Publishing)
Langganan:
Postingan (Atom)