Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

16 April 2010

Tetap di Rumah Tukang Kayu

-------->>>

sesungguhnya, ,
sikap terhadap kehidupanlah yang membuat kehidupan terasa pahit dan membosankan, ,
sedangkan kehidupan sendiri berjalan dengan ritme alam yang mengaturnya sedemikian rupa. .
sikap ini pula yang membuat setiap individu setengah atau sepenuh hati mengisinya. .
apa yang dipikirkan biasanya akan mempengaruhi bagaimana sikap kita terhadap apa yang kita pikirkan tersebut dan selanjutnya akan mempengaruhi kinerja sendiri. .
sebagai contoh, ,
apa yang telah dipikirkan tukang kayu tadi telah mempengaruhi sikapnya terhadap pekerjaan membangun rumahdan berbuahkan tindakan yang ogah-ogahan. .

acapkali banyak individu sulit mengisi kehidupannya karena terseret-seret oleh masa lalu yang masih menggelayut dalam dirinya. .
padahal, ,
nostalgia masa lau yang demikian indah, ,
jika tidak terkontrol, ,
akan menggiring ke arah ketenangan batin yang berlebihan dan membuat sulit untuk berubah. .
demikian pula dengan trauma masa lalu, ,
ternyata dapat membuat seseorang enggan untuk memulai suatu lembaran baru dalam kehidupannya. .
Jack hayford pernah mengatakan, ,
"masa lalu adalah persoalan yang sudah mati dan kita tidak mungkin meraih momentum untuk menuju hari esok kalau kita menyeret-nyeret masa lalu di belakang kita. ."

sesungguhnya kita tidak tahu apa akibat yang kita lakukan saat ini, ,
kecuali memprediksiknya. .
namun, ,
yang pasti adalah hari ini merupakan bagian waktu yang nyata kita hadapi langkah demi langkah, ,
di situlah harta dan makna kehidupan yang telah kita lakukan. .
lebih jauh, ,
Charles Jones memprediksi bahwa satu-satunya perbedaan antara siapa Anda hari ini dengan siapa Anda lima tahun lagi akan tampak dari buku-buku yang anda baca dan dengan siapa Anda bergaul serta dengan siapa Anda melewatkan waktu itu. .

itulah sebabnya apa pun yang dilakukan saat ini-tugas dan tanggung jawab yang diberikan serta jabatan yang kita sandang saat ini-seharusnya kita laksanakan dengan sebaik-baiknya, ,
karena apa yang kita tabur itu pula yang kita tuai. .
seorang arsitek pernah bertutur bahwa hidup adalah proyek yang kau kerjakan sendiri. .
pada akhir perjalanan kita akan terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri. .

15 April 2010

Rumah Tukang Kayu

Seorang tukang kayu bermaksud pensiun dini dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi perumahan. .
ia menyampaikan keinginan tersebut kepada pemilik perusahaan. .
Tentu saja, ,
karena tidak bekerja ia akan kehilangan penghasilan bulanannya. .
Akan tetapi, ,
keinginan si tukang kayu ini sudah bulat. .
Ia sudah merasa lelah, ,
ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya yang penuh damai dan ketenangan dengan anak juga istrinya. .
Di pihak lain, ,
pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. .
Ia selalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya, ,
sebagai karya terahir yang dipersembahkan bagi perusahaan. .

Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan tersebut. .
Tetapi, ,
sebenarnya hati kecilnya menolak dan merasa terpaksa. .
Pikirnya si pemilik perusahaan tidak mau rugi, ,
bahkan saat-saat terakhir pun ia masih diperkerjakan. .
hatinya tidak sepenuhnya tercurah pada pengerjaan rumah tersebut. .
Dengan bahan sekedarnya dan bekerja ogah-ogahan ia pun mengerjakan proyek itu. .
Alhasil, ,
rumahpun selesai dengan hasil yang memang tidak optimal. .
Ia telah mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak maksimal. .

Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ,
sang tukang kayu lalu menyerahkan kunci rumah yang telah dibuatnya tersebut. .
Sang pemilik rumah mengucapkan terima kasih atas karya terakhirnya itu. .

Seraya menyalami sang tukang kayu, ,
ternyata sang majikan (pemilik rumah) menyerahkan rumah yang telah dibangunoleh tukang kayu tersebut, ,
"Ambillah, pakailah rumah ini untuk hari tuamu dan anggaplah ini sebagai ungkapan terima kasih perusahaan terhadap dedikasi dan loyalitasmu selama ini."
demikian pemilik perusahaan menyampaikan kata-kata perpisahan. .

Betapa terkejutnya sang tukang kayu. .
Malu dan menyesal dirasakannya sewaktu menerima kunci rumah yang telah dibuatnya sendiri. .
Seandainya ia tahu, ,
bahwa rumah itu akan diberikan untuknya, ,
tentu ia akan mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. .

Itulah kehidupan yang penuh dengan misteri. .
Waktu yang merupakan aset terbesar kita terkadang menjadi sia-sia yang diakhiri dengan penyesalan. .
Padahal, ,
dalam hidup ini kita dapat diibaratkan sedang membangun rumah yang akan kita nikmati hasilnya, ,
baik di hari tua maupun sebagai monumen yang dapat dibaca oleh orang lain. .

bersambung. . .

---------->>>

18 Maret 2010

Segelas Susu

Suatu hari, ,
seorang anak lelaki miskin yang hidup sebagai pedagang asongan dari pintu ke pintu kehabisan uang. .
kondisinya saat itu sangat lapar. .
anak lelaki tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya. .
akan tetapi, ,
dia kehilangan keberanian saat seorang ibu muda -istri pejabat- membuka pintu. .
anak itu tidak jadi meminta makanan, ,
ia hanya berani meminta segelas air. .
ibu muda tersebut melihat dan berpikir bahwa anak lelaki itu pastilah lapar. .

oleh karena itu, ,
ia membawakan segelas besar susu. .
kemudian anak lelaki tersebut meminum dengan "lahap"-nya dan bertanya, ,
"berapa saya harus membayar segelas susu besar ini?"

ibu itu menjawab, ,
"kamu tidak perlu membayar apapun, orang tua kami dulu mengajarkan untuk tidak menerima bayaran jika melakukan suatu kebaikan". .

sambil menghabiskan susunya, ,'
anak lelaki tersebut berkata dalam hatinya:
"dari hatiku yang terdalam, aku sangat simpati pada ibu yang berbaik hati ini, dia tidak sombong sekalipun istri pejabat"

beberapa puluh tahun kemudian, ,
ibu muda dahulu (yang kini sudah agak lanjut usia) mengalami sakit yang sangat kritis. .
balai pengobatan sudah tidak mampu lagi mengobati penyakit komplikasinya, ,
apalagi saat ini ia berstatus janda seorang pensiunan kereta api. .
atas saran keluarganya, ,
si wanita ini dipindahkan ke Rumah Sakit Umum Pemerintah yang ada di kota tersebut untuk di observasi. .
namun, ,
tetap saja tidak bisa diobati. .
akhirnya, ,
dengan menjual barang-barang tersisa dan atas bantuan rekan-rekan sesama janda pensiunan, ,
si wanita muda ini dikirim ke ibukota karena di sana ada dokter yang mampu mengobati penyakit komplikasinya itu. .

Dr. Sobur Nurjaman Ali dipanggil untuk melakukan pemeriksaan. .
pada saat ia mendengar nama kota asal ibu tersebut, ,
terbersit seberkas pancaran aneh pada mata Dr. Sobur. .
segera ia bangkit mengenakan jubah dokternya dan bergegas turun melalui aula rumah sakit menuju kamar si wanita tersebut. .
ia langsung mengenali wanita itu dengan sekali pandang. .

Dr. Sobur kemudian kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan serangkaian medical check up total serta terapi-terapi medis lainnya. .

"pokoknya, ibu tersebut harus sembuh."
demikian obsesinya. .
mulai hari itu, ,
si ibu yang tergolek lemah tersebut menjadi perhatian Dr. Sobur dengan kasih yang tulus. .
memasuki bulan ketiga di rumah sakit tersebut ternyata s ibu benar-benar sembuh. .

lalu, ,
Dr Sobur meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya guna persetujuan. .
Dr. Sobur melihatnya, ,
dan menuliskan sesuatu pada pojok atas lembar tagihan tersebut. .
ia sangat yakin bahwa ibu ini tidak akan mapu membayar tagihan tersebut walaupun harus dicicil seumur hidupnya. .
bisnis yang dirintis bersama sang suami (almarhum) ketika memasuiki pensiun gagal karena ditipu orang, ,
demikian cerita si ibu kepada Dr. Sobur beberapa waktu lalu. .
hal ini pula yang membuat ia jatuh miskin, ,
dengan seorang anak yang saat ini juga pengangguran. .

lembar tagihan akhirnya sampai ke tangan ibu yang malang itu. .
dengan rasa was-was ia memberanikan diri membaca tagihan yang di sodorkan oleh bagian keuangan. .
di sana tertera rincian biaya yang dikeluarkan selama ia menjalani pengobatan. .
akan tetapi, ,
ada sesuatu yang menarik perhatiannya pada pojok atas lembar tagihan tersebut. .
ia membaca tulisan yang berbunyi, ,
"telah dibayar lunas dengan segelas besar susu!"
Tertanda : Dr. sobur Nurjaman Ali

(Marpaung, Parlindungan.2006.Setengah Isi Setengah Kosong.Bandung: MQS Publishing)